Kamis, 11 Desember 2008

Di Lematang

Puisi
Jajang R Kawentar

Di lematang air mengalurkan kata-kata
kadang keruh kadang jernih kadang meluap
banjir bandang
menghanyutkan menenggelamkan tempat tinggal
tinggal terkenang
jiwapun melayang ke hilir sebagian
bernyanyi mengiris terbata-bata

di lematang penduduk melukis dirinya dengan lagu air yang mengalir
kata-kata menjadi nyaring berlari-lari dalam gelombang
serta gemuruh tawa
mereka duduk tersipu serupa batu
teguh memeluk di pusaran waktu
mengenang bimbang Dirut kapan pulang
dirut
dirut
di lematang menantang kapan datang

Di lematang jampijampi menjadi batu pasir kerikil
Sampahpun hanyut menyemut
bongkahan batang melintang melanting jalan
bangkai-bangkai mengambang
dari tubuh dan dapur pabrik seperti ombak menyapu tebing

di lematang katakata untuk mandi, gosok gigi dan mencuci
perahu karet ban mobil berlayar perlahan
berpenumpang batubatu dan sesak amanat keluarga
rakit dan sampan kendaraan menyeberang
mari kawan jangan sungkan berenang
arus lematang tenang jangan ditentang

di lematang sajak-sajak dikayuh ketujuan
ke hulu ke hilir mudik bersama warna dan cahaya
airnya jadi syair sunyi dingin pagi buta kabut meneteskan mata air
airnya jadi kuduk menembus jantung kehidupan
urat nadi putus, air merah bersimbah
siapa melawan jangan harap kembali

di lematang batu menjadi bahan bangunan kalimat
dipecah martil dari negri kapital disusun ikan asin
merdu mendayunya orang melayu
pasir menjadi bahan jalan rata katakata yang mula berlobang becek tur licin
di lematang angin dari perbukitan berkejaran mengusap-ngusap dada pengap
mengirim wangi bunga kopi atau bau getah batang karet

gelombang beriak bahasa menimang-nimang
arusnya jangan ditentang pasti sampai tepian

di lematang dulu kala lalu-lintas puyang
kata-kata terjalin jadi keluarga beranak-pinak
sukusuku bangsa menjadi suku-suku kata
menyebar membentuk dusun membuat talang-talang
di dangau mereka berpantun bercerita geguritan
bujang gadis kawin diarak terbangan
disambut tarian riang
panen raya telah tiba

di lematang kini mata pencaharian orang-orang dusun
berlomba membuat gunung-gunung batu berkubik-kubik
berkubik-kubik menimbun kota menimbun rawa-rawa
menimbun tumbuhan, satwa dan anak bangsa
menimbun kata-kata sendiri dan sejarahnya

di lematang silsilah bisa dirajut dari arah mata angin
menjadi kinjar dan truntung puntung dan buah kawe
dibebankan di jidat nak, nik, nuk,
pada Pasemah dan Gumay
sejak Raja Syailendra berjaya atau Patih Gajah Mada bertahta
di Lematang darah tua tergores
peradaban lahir mengikuti arusnya ke pusaran

Lahat, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar