Kamis, 11 Desember 2008


Gadis Dari Merapi Hilang Tanpa Jejak

Beritalahat.
Satriyani, gadis belia yang baru beranjak dewasa, meninggalkan rumahnya di Merapi Barat, pukul 10 pagi, 13 November 2008 yang lalu. Sebaris sebab kepergiannya tercatat di sebuah buku harian yang ia tinggalkan sebagai kenangan.
Satriyani dilahirkan 16 tahun yang lalu, ibunya bernama Pariana (43) dan Ayahnya Dani Kusno (47). Ia anak ke empat dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani karet. Sehari-harinya Satriyani jarang ke luar rumah, ia pendiam, namun teman-temannya sering datang bertandang ke rumahnya.
Sebelum pergi, Kusno sempat mendengar pembicaraan Satriyani di telepon genggam, saat ia sedang duduk di lantai bawah rumah panggungnya. Ia mendengar anaknya diajak seorang lelaki bertemu di Lahat. Namun Kusno tak begitu menanggapi pembicaraan anaknya. Satriyani mempunyai nenek yang tinggal di Lahat dan kakak perempuan yang bekerja di sana. Satriyani sering mengunjungi nenek dan kakak perempuanya itu. Kusno berfikir, mungkin laki-laki itu adalah teman anaknya di Lahat, Riko dan Nova.
“Mereka kayaknya becewe’an. Mereka ngomong kapan bisa ketemuan. Tapi Satriyani dak pernah cerita kalau die nak ketemu dengan yang namanya Riko atau Nova, sebelum pergi dia ngomong kalau ayuknya yang begawe di Lahat menelponnya, nyuruh ke Lahat. Kami percaye saje, dak curiga ape-ape. Biase die galak pegi sehari, besok paginya ia pulang,” kata Kusno.
Sampai keesokan harinya Satriyani belum berada di rumah. Padahal ia harus mengikuti pelajaran di sekolah, ia masuk siang. Biasanya, sebelum sekolah Satriyani pasti sudah berada di rumah. Kusno lantas menelpon anak perempuannya yang bekerja di Lahat. Satriyani tidak menemui kakak perempuannya.
“Waktu sekolah besoknye, dia belum juga muncul, mangke ditanyekan same kancenye, ditelpon ke ayuknye. Kate ayuknye, Satriyani dak nemui ayuknya.,” Jelas Pariana, sambil memetik sayuran yang baru dibelinya dari warung. Pariana berpesan sebelum Satriyani pergi, ia minta tolong bayarkan tagihan listrik sama kakak perempuannya
“Beberapa hari sebelumnya, Satriyani minta duit untuk bayar SPP sekolahnya, dan sudah dikasihnya. Jadi waktu dia ngomong nak ke Lahat dia cuma bawa duit untuk sekolahnye, HP dan juga Ijazah SD, SMP-nya dan foto-fotonya semua dibawa,” kata dani Kusno dengan raut wajah yang sedih.
“Satriyani anaknya manja, tidak terlalu banyak bicara, kami tidak terlalu banyak bicara, kami tidak pernah marahi dia. Dia juga jarang ke luar rumah, kalu tidak kawan-kawannya yang datang ke rumah,” jelas Pariana.
Kami sudah menghubungi saudara-saudara yang ada di Lahat, pagar Alam, Bengkulu, dan Lubuk Linggau, jawabnnya tidak ada. Bahkan dani kusno telah meminta tolong tetangganya di Lubuk Linggau, Walnasri untuk mengecek rumah Riko, satriyani tidak ada di sana. Walnasri belum bertemu dengan Nova.
“Entah, mesti minta tolong sama siapa lagi, sementara uang kami sudah habis,” kata Kusno, ia menarik nafas panjang, matanya berkaca-kaca.
Di sekolah, Satriyani mempunyai teman dekat, Fiti dan Rahmayana. Mereka satu kelas di SMA Negeri Merapi timur. Di hari pertama kepergian Satriyani Fifi mendapat SMS dari Satriyani, pukul satu saing, Satriyani memberi tahunya lupa membawa rekening listrik.
“Aku tidak tahu jika mulai hari itu Satriyani tak pulang ke rumah,” kata Fiti.
Fiti dan Rahmayana tempat saling berbagi cerita, termasuk tentang sekelumit perasaan terhadapa lawan jenis. Kedua temannya ini sangat prihatin dan cemas ketika mendengar kabar bahwa Satriyani tak kujung pulang ke rumah. Mereka takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka berdua pun berusaha mencari tahu keberadaan temannya ini.
“Satriyani pernah cerita kalau mau ketemuan di Lahat dengan pacarnya yang kenalan di hp itu. Saya menyarankan supaya kenalannya itu di suruh ke rumah saja. Tapi Satriyani berkeras menemuinya di Lahat,” kata Fiti.
“Riko itu kenalannya di HP, orang Linggau, alamatnya ada di buku diarynya,” sambung Rahmayana.
“Malam kedua setelah kepergian Satriyani, kami coba lagi menghubunginya, hp nya masih aktif. Tapi setelah itu Hp dimatikan sampai sekarang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar