Langit Pecah
Cerita Pendek
Pinasti S Zuhri
Aku ingin melihat kala langit gelap, merasakan guruh dan
“Adakah suara kejenuhan meluruhkan perasaan?” sekarang yang kulakukan hanyalah menunduk, menghempaskan tubuh pada sebuah angan.
“Keramaian ini adalah duniamu, jangan berlari, rangkullah kepenatan dalam suaramu, detik-detik akan terus berlalu dan jawaban pasti selalu ada, tampakkanlah mukamu, jangan ada kecut di
Dikejauhan pandang kulihat ibu dan ayahku menempuh perjalanan panjang. Mereka mengandeng seorang anak, dia riang berlari-larian di jalan bertabur bunga, rindang pepohonan yang menjaganya dari sengatan matahari. Kedua orang tuaku tersenyum, anak itu dipeluk lalu digendongnya.
“Jangan hanya melihat dengan matamu, kau rasakan lagi, sesuatu yang tampak di matamu mungkin tak sama dengan rasamu, lihatlah dengan hatimu.” Orang tuaku begitu menyayangi aku.
Pohon-pohon itu melambai lagi, seakan mengajakku bermain-main, tapi kakiku enggan beranjak dari dinginnya air sungai ini. Rembulan memantulkan cahayanya, aku dapat bercermin, wajahku meliuk kesana-kemari, senyumku pun tak jelas, lalu gelembung udara berterbangan dari tepian pasir hitam yang kupijak. Kelelawar itu, tetap seperti bintik-bintik hitam, mereka melayang dan menukik, menyelip di pepohonan, mereka tidak takut pada malam, mereka tidak mencemaskan kegelapan. Aku masih berdiri, diam terpaku merendam kaki di sungai, sendiri.
Sebentar lagi aku akan pulang, bila ibu sudah memanggil, ibu yang tak jemu memberiku segalanya, kasih sayangnya, cintanya, doanya, air matanya, tulangnya, darahnya, air susunya, tenaganya dan tak terhitung apa lagi pemberiannya. Aku sayang ibuku.
“Pulanglah nak, malam tlah larut, nanti kau masuk angin.” Suara ibuku merdu sekali, lembut tak berbanding, aku menoleh, dan tampak di mataku wajah cemas di antara kerutannya. Aku mengangguk.
“Istirahatlah, nanti lelah berselimut di tulangmu,” lanjut ibuku ketika aku sampai di garang rumah panggung kami.
“Iya bu.” Aku menggandeng tangannya, hangat sekali, tangan inilah yang membesarkanku, tangan ini begitu kuat, ia mencengkram waktu, ia menangkis kesengsaraan, ia menggenggam harapan, demi aku.
Aku berbaring di tikar purun, seketika mataku menatap atap rumahku, rumah kayu yang lapuk, sarang alab-alab di sana-sini, aku menoleh ke ibuku yang duduk di dekat lampu minyak tanah yang redup, tangannya memegang sehelai baju, dan menusukkan jarum yang teruntai benang warna putih, aku berbalik.
“Ibu perhatikan satu minggu ini kamu terlihat gelisah, sering melamun dan menatap kosong, ada apa Mud?” tanya ibuku, aku tak berani menjawab, tentunya aku akan menjawabnya dengan kebohongan dan pasti ibuku akan tahu kebohongan itu.
“Tidak ada apa-apa bu,” jawabku pelan.
“Kamu bosan makan ikan asin.” lanjut ibuku.
“Tidak bu,” jawabku.
“Hidup ini seharusnya dapat berganti, seperti hari-hari yang kita lewati, kita hanya melihat, menemukan, mengerjakan yang itu-itu saja, dulu ibupun pernah mengajak ayahmu untuk pergi dari desa ini, mencari penghidupan yang baru, mengadu nasip ke tanah orang.” Ibuku menarik nafasnya, ia hentikan menjahit. Aku duduk menyambar segelas air dan memberikannya.
“Tapi, ayahmu itu orang yang gigih, dia tak begitu saja menyerah, ia terus menggarap tanah di sini, ia berhasi, padinya tumbuh dengan lebat, sayur-sayurnya hijau, ikan-ikannya besar, tanah dan air di sini memberi kehidupan yang baik, sampai suatu saat, air sungai mulai menguning, berkarat dan bau, tanah-tanah kehilangan suburnya, pepohonan habis ditebang, ayahmu protes, ia mendatangi pabrik yang merusak tanahnya, ayahmu seperti banteng terluka, ibu tak dapat mencegahnya, akhirnya puluhan penjaga pabrik itu mengeroyok ayahmu, tapi ia tak berlari, ia terus merangsak maju sampai akhirnya ia harus roboh.” Ibuku meneteskan air matanya.
“Sudahlah bu, jangan dikenang lagi peristiwa itu,” kataku sambil menunduk. Andai semua kenangan itu dapat kuambil dari ibuku tentunya ia takkan pernah meneteskan air mata lagi.
“Ayahmu sangat ingin menyekolahkanmu di
“Apakah ibu mengizinkan, jika Mahmud mencari penghidupan di tempat lain?” Ibuku tersenyum.
“Kau laki-laki, kejarlah apa yang kau cita-citakan, ibu akan selalu mendoakanmu,” kata ibuku.
“Lusa, Mahmud akan merantau bu.” Ibuku mengangguk.
Aku pamit, kucium kedua tangannya, kendati berat meninggalkan kampung halaman, meninggalkan semua yang telah dekat di hatiku, namun aku yakin semua itu takkan pernah hilang, semua akan tetap seperti adanya, sampai aku mengubah semua keadaan menjadi seperti dulu lagi.
“Selamat tinggal pohon kelapa, selamat tinggal pasir hitam, selamat tinggal dedauan layu,” batinku.
“Jangan pernah meneteskan air mata nak,” kata ibu sambil membelai kepalaku.
Kulangkahkan kaki, di jalan tanah berlubang dan berdebu ini tanpa kusadari aku menyeret sepenggal kekecewaan, membawa beribu dendam. Ibuku, ayahku, dan semua penduduk desaku menderita akibat ulah segelintir manusia yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang yang seharusnya dapat menjadi tempat kami mengadu, bisanya hanya berjanji dan diakhiri dengan diam. Mereka memalingkan muka untuk penderitaan ini, sepertinya kami layak untuk disingkirkan.
Di
Tak terasa hari-hari terus berputar, aku sedang memutus dan menyambung kabel sebuah alat elektronika ketika sebuah kabar kuterima, surat itu kubaca, di desaku, musim paceklik tengah melanda, masyarakat banyak yang pindah, sebab tanah kering meretak, di sana serba kekurangan, harga-harga naik tak tentu, makanan susah didapat. Seperti hujaman yang kembali melukai hatiku, memanaskan dendam yang sudah membara, ada api di sini, ada api di dadaku.
Malam itu, di sebuah rumah, dipinggiran ibu kota, aku berserta lima orang temanku duduk melingkar, tak ada yang dapat mendengar suara kami, bahkan dindingpun tak mengerti kalimat yang meluncur dari bibir kami. Kami sepakat untuk menjemput ibuku. Besok, semua yang telah kami rencanakan akan berjalan.
Tibalah pagi, kuhisap dalam-dalam udaranya, masih terasa sejuk, mengalir ke dadaku. Kugerakkan tanganku ke kiri ke kanan, kulihat temanku telah selesai mandi. Pukul setengah enam tepat kami menyiapkan segala perangkat yang akan kami bawa, semua telah dibungkus, baik pakaian maupun kertas-kertas yang tersimpan di lemari kami.
Bis yang kami tumpangi telah sampai ke desaku. Perasaanku berkecamuk, aku seperti mengijakkan kaki di tempat yang tak kukenali. Cepat kulangkahkan kaki menuju rumahku, sementara teman-temanku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Rumah-rumah panggung tampak kosong, sebagian roboh, sepertinya desa ini telah lama ditinggalkan penghuninya.
Gubuk itu bertambah reot, beberapa papan dindingnya mengelupas, tak ada tanaman sayuran, tak ada pehonan, sepertinya sudah tak ada kehidupan lagi disini, kecuali suara mesin-mesin pengeruk dan asap pabrik serta corong limbahnya yang telah menemukan surga disini.
Kuberikan salam, ketika kakiku menginjak garang rumahku, tak ada sahutan, kuputuskan untuk mendorong langsung pintu tua itu. Aku langsung menghambur, kali ini tak dapat kutahan tangis seperti aku meningglkan ibuku. Tapi tangisku ini adalah amarah, tangisku ini kepiluan seorang manusia, bukan tangis cengeng, bukan pula tangis sandiwara.
Aku bersimpuh di kaki wanita tua itu, wanita yang selama ini menjadi penerang dalam hidupku, ia terbaring lemah di tikar purun, tubuhnya kering, air dalam cangkir di sampingnya seperti debu yang melumpur. Teman-temanku menyaksikan keadaan ini sangat terpukul. Aku terus menangis.
“Bu, Mahmud datang bu, maafkan Mahmud bu.” Kusentuh lembut tangannya yang tinggal kulit pembalut tulang itu. Perlahan mata itu terbuka, sayu, namun aku melihat sesuatu yang tetap ada di tatapnya, ibuku memang wanita yang tangguh, sinar harapan di matanya tak pernah padam, walau derita menggerogoti sisa hidupnya.
“Mud, kamu pulang nak?” kata ibuku parau.
“Mahmud akan bawa ibu pergi dari sini,” kataku sambil memberikan air minum yang kubawa. Air itu habis mengalir ke tenggorokannya.
Teman-temanku saling pandang, lalu menatap aku, kuajak mereka keluar rumah setelah berpesan pada ibuku.
“Kita kesana,” kataku sambil menujuk ke arah sungai. Kelima orang temanku mengikuti, perlahan kami berjalan, mengendap diantara bebatuan. Satu jam kami menyusuri sungai hingga habis semua isi tas kami. Kami bernafas lega, tugas pertama selesai sudah. Aku pulang menggendong ibuku, menuju tepi jalan. Tak berselang beberapa waktu, sebuah bis telah berhenti di depan kami.
Pagi itu, ibuku sudah tampak segar kembali, aku bahagia melihatnya, seteko kopi telah tersedia di meja ruang makan, ibuku yang masih berjalan tertatih-tatih itu menyeduhkannya, tak ada lelah tertampak setelah menempuh perjalanan jauh dari desa ke kota. Kulihat satu koran telah tergeletak di samping cangkir, kubuka perlahan. Aku tersenyum. Begitu pula dengan temanku yang telah selesai mandi. Cepat-cepat kunyalakan televisi. Indah sekali pemandangan itu terekam, sampai juga keinginanku untuk memberikan hadiah kepada ayah dan ibuku. “Ayah, lihatlah, aku anakmu telah bawakan gugusan bintang, aku bawakan bulan, aku bawakan matahari, aku bawakan awan putih, untuk menghiasi langit-langit hatimu, disana, di kehidupanmu yang kedua.
“Ledakkan telah meluluhlantakkan satu desa,….” Kumatikan televise itu.
Lahat, 08 Juli 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar