Kamis, 11 Desember 2008

Bungkusan Kacang

Cerpen

Jajang R. Kawentar

UDARA Minggu malam telah membekukan tubuh, kaku kikuk. Angin berhembus seperti mesin jahit, jarumnya menusuk-nusuk menembus kulit ari-ari sampai ke hati. Di sini, Mulyadi duduk di teras, ya di sini di Stasiun Kereta Api Gambir yang mencibir. Burung Gereja berjejer empet-empetan menghangatkan tubuhnya di atas palang kayu, salah satu konstruksi bangunan Stasiun. Di bawahnya terhampar tainya bergunung-gunung kecil, menghiasi lantai. Orang-orang lalulalang seperti linglung, bertepuk tangan dengan pandangan manis mengamatinya sinis dan bengis.

"Tuhan! Udara, Tuhan! Tak kenal kompromi. Hari ini aku benci setengah mati. Seharian bekerja banting tulang untuk makan keluarga hanya dapat tiga ribu tiga ratus lima puluh perak. Bagaimana Tuhan? Aku tidak berani pulang ke rumah. Sebagai suami aku tak mampu memberi makan anak bini. Tuhan! Ini Jakarta, Tuhan! Uang sekian mana bisa membuat kenyang walaupun lambung sebesar jantung? Untuk beli nasi bungkus saja tidak cukup! Apa yang harus aku katakan pada mereka dan apa yang harus aku berikan pada mereka, agar mereka terima? Tuhan, jangan paksa aku maling lagi lho! Itu haram. Haram, Tuhan! Apakah Kau tidak kasihan Tuhan, kalau aku ketahuan, dihakimi penduduk sampai babak belur tak punya rupa, mati atau ditangkap polisi, diadili dan dijebloskan ke penjara. Iiih Amit-amit jabang bayi. Bagaimana makan anak bini nanti, Tuhan?" Pikirannya buntu di teras itu.

Duduk termanggu menunggu jalan keluar dari penyakit rasa lapar yang menghajar keluarganya. Stasiun tak pernah sepi, orang silih berganti. Pulang dan pergi kembali. Bukan kayanya lagi, dia mengintip hampir setiap yang lewat.

"Tuhan! Mengapa aku tidak jadikan orang kaya saja? Supaya tidak terlalu banyak mengeluh atau cabut saja nyawaku dan nyawa keluargaku! Kalau bisa, bebas tugaskan saja saya ini dari hidup. Tapi jangan suruh kami bunuh diri, karena kami tak kuasa dengan dosa. Oke?"

Dingin makin menjadi, menggigilkan tubuh kurusnya. Gemeretak gigi, kulit merinding menyelimuti, napas normal menguasai.

"Terima kasih Tuhan, kasih-Mu masih kurasakan sekarang. Tuhan, bolehkah malam ini aku tidak pulang ke rumah? Hanya malam ini saja lho! Boleh kan? Pasti boleh ya Tuhan, ya. Maafkan aku, Marni istriku, Tini, Toni anakku. Pasti kalian sedang melawan dan menahan lapar. Kasihan. Aku tahu, aku tidak bertanggung jawab kan? Tuhan Mahatahu." Dia memeluk lutut, lesu. Mata berkabut.

"Haruskah bersedih menangisi keadaan malam ini??? Sorry saja. Kami sudah biasa berpuasa, tanpa mengenal jadwal hari dan bulan. Puasa mati geni, puasa Daud, pernah kami coba semua. Bila keadaan memungkinkan begitu, setiap waktu bila perlu. Siapa takut? Dia menata pikirannya.

"Dulu waktu penjajahan Belanda dan Jepang tidak begini sulit cari duit! Zaman revolusi juga tidak seburuk ini, dia masih ingat dongeng kakek dan bapaknya yang bilang, begitu sebelum meninggal. Malam terasa merambat lambat. Pasti bukan barangkali, demikian juga yang dirasakan anak bininya, menanti dia kembali membagi rezeki. Mulyadi sering bilang pada mereka: Makan nggak makan yang penting kumpul. Entah mengapa malam ini dia tidak berani pulang, berkumpul bersama-sama menahan rasa yang sama, berbagi rasa nyeri agar jangan sampai ke ulu hati, apalagi mati. Ini bukan aksi mogok makan, ini kenyataan. Rawan pangan mengadang, gizi buruk nyeruduk, perut-perut terpuruk ambruk.

"Tuhan, hanya Kaulah yang dapat kuajak bicara, diskusi, seminar semauku. Aku sangat percaya pada-Mu lho. Sweare. Daripada pada orang-orang sekarang. Edaaan!"

** *

Malam bertambah malam, kian lekat hitam legam. Namun ini Jakarta, sekali lagi ini Jakarta. Malam bak siang. Matahari berganti lampu-lampu neon, terang benderang di mana-mana. Ibu kota negara Indonesia bermandikan cahaya, tetapi tidak semua. Tempat tinggal Mulyadi tetap kelam bila malam menjelang, tetap kumuh dan berwarna kusam. Hanya segelintir lampu sentir atau lilin yang menyala dan bila waktunya tidur tinggalah cinta yang menyala-nyala, selain itu mati kutu. Kalau api yang menyala, bahaya. Penduduk di situ bilang: Rumah kami rawan kebakaran sebab kontruksinya kardus dan pelastik, interiornya pun begitu. Seperti seni instalasi, bisa dibuka kapan saja dan dipindah secepat kilat bila ada petugas kampret. Kalaupun tergusur, diusir, dibangun lagi di situ. Tidak terlalu susah, bahan mudah didapat. Kardus bekas, plastik bekas. Rumahnya dekat pembuangan sampah. Sungguh mengasyikkan, bau sengit menyenangkan, tak sebiasa membau parfum. Mereka terbiasa tergusur, apalagi terusir. ]

"Habis mau kemana lagi, kami tidak punya tanah, air, apalagi rumah?"

"Lho. Ape lu kagak kenal ame yang namenye Sumpeh Pemude 1928, ape sumpeh tuh udeh jadi sampeh?" terdengar suara berbisik di kuping Mulyadi seperti malaikat pembela kebenaran sejarah. Mestinye lu nuntut, hak lu. Goblok!"

"Nuntut? Nuntut gundulmu."

Pasti malaikat ini baru diterima kerja, mungkin sedang di-training. Sama saja, malaikat juga ada yang bodoh seperti aku. Biasa, pikirnya. Dia masih di teras seperti tadi memeluk lutut, membayangkan yang bukan-bukan. Tidur di ranjang, pake kasur busa, penghangat ruangan, pelayan, istrinya bersolek di depan meja rias, anaknya Tini, Toni tidur di kamar sendiri, minuman dan makanan komplet dalam kulkas. Dia tidak usah memikirkan besok makan apa, tidur di mana, hujan atau banjir, menikmati hidup empuk, kekayaan, kekuasaan, dan kebesaran Tuhan.

"Jo, Karjo! Tolong cuci BMW merah, nanti siang aku sidang di gedung MPR DPR lho." "Pak, sarapan sama apa, pak? Ibu nanti pergi arisan lho ke tempat Ibu Mentri, mungkin pulangnya agak terlambat. Katanya, bapak sekarang diangkat jadi mentri?"

"Yah, Ayah pake Mercy biru saja ya. Toni mau pake BMW merahnya, ya.”

" Mercy biru kan mau di-pake ibumu. Kemarin kan baru beli motor Harley. Kenapa nggak pake itu saja?"

"Ah, lagi males."

"Ya sudah ibu nanti pake yang Kijang saja." "Tini ke mana bu, dari tadi bapak nggak lihat."

"Dia kan sekarang ikut body language atau aerobic ya, ibu lupa."

"Toni tahu, paling ngeceng di mal pak."

"Besok beli saja alat-alatnya itu, jangan sampai dia kena pengaruh teman-temannya yang tidak waras. Mabuk obat terlarang. Bapak kan dapat proyek lagi, jadi belilah keperluan Tini itu, biar nggak usah keluar. Kalau perlu private dirumah."

"Bang, permisi bang," tukang ngepel mengelap bersih lantai di sekitar Mulyadi dan lamunan kotornya. Dia menjadi bimbang, pikirannya berperang antara pulang atau tetap tinggal di teras yang kini telah bersih. Dia malu pada tukang ngepel, karena punya pikiran kotor. Ia ingin sekali meminjam lap pelnya, untuk membersihkan kotoran yang ada di kepalanya.

"Tuhan, sekarang saya tidak tahan menahan haus dan lapar. Apakah Kau tidak lagi berpihak padaku? Kau berpaling dariku atau Aku yang telah berpaling dari-Mu? Sungguh aku malu lho, tidak tahu. Engkau Mahatahu." Tukang ngepel masih berdiri di situ, menatapnya iba.

Dia pergi, menyelinap dikerumunan orang yang antre membeli karcis. Mulyadi tambah terpukul, dia ingin menjerit ke langit protes pada Tuhan dan berteriak pada penguasa.

"Apakah mereka itu semua buta Tuhan atau telah Kau butakan? Apa mereka tidak dengar perut kami bernyanyi keroncongan dari sejak lama. Apakah mereka tuli, Tuhan, atau telah Kau tulikan?" Tiba-tiba tukang ngepel menghampirinya dengan memberikan bungkusan dalam kertas.

"Bang, saya punya sedikit makanan. Lumayan ganjel perut," dia mengerti, tukang ngepel itu mengerti apa yang sedang Ia rasakan.

"Terima kasih, semoga Tuhan membalasnya yang layak," dia memanggutkan kepala.

Tukang pel pun begitu, lalu pergi. Isi bungkusan itu kacang godok. Dia jadi ingat istri dan kedua anaknya Tini, Toni. Dia tidak berani memakannya, ini pasti untuk anak dan Istri, bukan miliknya sendiri, pikirnya. Iseng-iseng dia buka bungkusan itu, sekadar ingin tahu kertas pembungkus kacang itu. Dia kaget, ternyata bungkus kacang itu Surat Keterangan Kelakuan Baik. Dia bertambah kaget, di sana tertulis jelas huruf besar dan tebal. Nama yang sama dengan namanya Mulyadi, Ia merasa seperti dalam film. Tempat tanggal lahir Sleman, 30 September 1965, Bangsa Indonesia, Agama tidak jelas ketikannya kabur, Pekerjaan kosong, alamat, nomor KTP, rumus sidik jari, Nama orangtua semua tidak jelas ketikannya kabur. Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan: Melamar pekerjaan di Jakarta.

"Dia masih mending punya Surat Keterangan Kelakuan Baik. Aku boro-boro, KTP saja tidak punya. Sial! Apa surat ini punya tukang ngepel tadi ya? Ah mungkin dia sudah tidak membutuhkannya, dia sudah kerja."

"Pak Mul! Pak!" terdengar suara berteriak memanggil namanya. Dia menoleh ke arah datangnya suara. Tukijan tetangganya, teman seprofesi itu datang tergopoh-gopoh.

"Pak Mul, sejak siang tadi kami sekampung mencari-cari Bapak."

"Ada apa Jan, Aku kok dicari-cari? Biasanya juga tidak ada yang nyari?"

"Pokoknya Bapak cepat pulang! Penting!"

"Aku tak kuat berjalan, Jan." Mendadak kaki dan tangan Mulyadi tidak berfungsi, lemas.

"Kita naik bemo saja. Ayo cepat!" Di dalam becak penasaran Mulyadi kian memuncak. "Sebetulnya ada apa, Jan?"

"Tadi siang Tini dan Toni muntah darah, katanya sih keracunan! Entah kena peluru nyasar tentara......" Sejak itu Mulyadi tidak ingat apa-apa. Dia sadar telah berada di Bangsal rumah sakit dengan slang infus menembus urat tangan. Dia tidak dapat bergerak sedikit pun.

Tukijan masih di sampingnya seperti di dalam bemo. Dia berbisik:

"Istri Bapak masih pingsan, Tini dan Toni telah dikuburkan dan uang Bapak aku pakai bayar bemo. Ini kacang godognya.”

" Tukijan memberikan bungkusannya. "Jan, tolong sampaikan pesan buat tentara, senjata itu bukan untuk membunuh rakyatnya yang tidak berdosa......tanyakan pada mereka, darimana biaya untuk beli senjata itu?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar