Rabu, 10 Desember 2008

PEMIMPIN BARU LAHAT KEBIJAKAN BARU

Oleh Jajang R Kawentar

Setelah dua priode Bapak Harunata menjabat kepala daerah Lahat, kini berakhir sudah. Salah satu prestasinya yang cukup mencengangkan adalah terwujudnya Pembangunan Perusahaan Batu Bara Lahat. Sehingga membuka lahan usaha baru untuk pendapatan daerah Lahat yang diperkirakan menyumbang sangat besar. Berawal dari eksplorasi batu bara inilah tenaga kerja yang berasal dari Sumber Daya Manusia (SDM) lokal mulai banyak diserap. Tidak menutup kemungkinan penyerapan tenaga kerja di sektor pertambangan ini akan terus bertambah, beriringan dengan bertambahnya anak perusahaan di bawah naungannya. Barangkali akan menjadi modal dasar bagi pembangunan Kabupaten Lahat ke depan.

Kini Dengan wajah baru, penampilan baru, masih muda, H. Saifuddin Aswari, SE, menjadi harapan seluruh masyarakat Lahat untuk dapat membangun kota Lahat menuju kota Lahat yang lebih baik. Selain diharapkan dapat membangun infrastruktur yang representatif juga membangun sumber daya manusia lebih berkualitas dengan berlandaskan spiritual yang kuat, mampu meminimalisir kegiatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di dalam pemerintahan maupun dalam kemasyarakatannya. Karena hal itulah salah satu penyakit yang menyebabkan pembodohan masyarakat. KKN memperburuk kualitas SDM dan Sumber Daya Alam. Akibatnya berbagai permasalahan dan segala urusan dianggap gampang, tanpa memikirkan efek yang akan terjadi di kemudian hari. Untuk itu tidak ada salahnya belajar kepada Kabupaten Musi Banyuasin dan kepada Bupatinya yang kini menjabat Gubernur.

Dalam kesempatan ini pula penulis prihatin dengan keadaan Kota Lahat yang terkesan kurang terwat. Sehingga perlu perhatian khusus untuk lebih mempercantik wajah kota ini. Sebelum lebih rumit dan kompleks dalam menyelesaikan permasyalahannya.

Ada beberapa hal yang dianggap urgen dalam setiap gerak pembangunan infrastruktur pemerintahan, pembangunan sarana dan prasarana, baik sarana perkantoran, sarana pendidikan, sarana publik dan sumber daya manusianya. Perlu adanya pengawasan yang lebih kooperhensif, dalam menjaga kualitas serta kuantitas pembangunan, jangan terkesan asal jadi. Sebab dari sinilah awal pembentukan imej masyarakat terhadap pemerintahan dan bagaimana karakter sebuah kota terbangun.

Apabila kita berkunjung ke kota-kota yang berwawasan lingkungan, memperhatikan ruang-ruang publik dan keindahan. Tentu kita akan merindukan suasana seperti itu, paling tidak sama dengan kota di mana tempat kita tinggal. Untuk itu dalam sistem penataan kota perlu kiranya mempertimbangkan dampak lingkungan, kepentingan publik dan keindahan kota itu sendiri. Sehingga setiap kebijakan yang disepakati tidak akan berbenturan dengan kebijakan pembangunan yang akan datang. Di samping itu kota akan lebih teratur dan memiliki karakter, tidak terkesan semerawut.

Kesemerawutan kota akibat dari beberapa kebijakan pemerintah tidak lagi memperhatikan lingkungan, ruang publik dan keindahan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perijinan bangunan yang keluar dari aturan main ketiga rambu-rambu di atas. Diharapkan dalam kepemimpinan Bupati yang baru memperhatikan disain kota yang lebih berkarakter, baik dari bentuk bangunan perkantoran, lingkungan perkantoran, bangunan tempat usaha atau bangunan sekolah, kompleks pendidikan, tempat-tempat hiburan atau taman-taman serta tempat-tempat wisata, harus betul-betul menunjukkan karakter daerah. Sehingga kota ini terasa berbeda, lebih tertata dan nyaman. Apabila tamu dari luar kota datang akan lebih terkesan, bukan tidak lebih sama dengan kota-kota pinggiran.

Membangun kota yang baru lebih mudah, ketimbang, membangun atau menata kota yang sudah terbentuk. Menata ulang kota tentu akan lebih sulit, karena akan ada benturan-benturan dengan masyarakat yang telah lama menempati tempat tinggalnya. Sehingga perlu relokasi bagi bangunan atau rumah, dan hal itu tentu akan memakan biaya yang tidak sedikit. Namun tidak ada rintangan yang sulit dilewati kalau ada keinginan dari pemerintahan itu sendiri.

Salah satu contoh kasus, apabila kita memperhatikan jalan-jalan raya yang ada di kota Lahat, belum menggambarkan jalan yang dirancang untuk masa depan, karena jalan-jalan yang ada masih sangat sempit dan untuk ruang pelebaran jalan sudah hampir tidak memungkinkan untuk diperlebar. Sekarang saja beberapa ruas jalan sering terjadi kemacetan, karena pengguna jalan semakin padat seiring dengan kesejahteraan masyarakatnya. Bisa dibayangkan apabila nanti setiap rumah sudah memiliki kendaraan roda empat, saat ini saja hampir setiap rumah memiliki kendaraan roda dua, bahkan dalam satu rumah setiap kepala punya satu kendaraan.

Begitu juga dengan konsep pusat pembelanjaan, atau pusat jajanan jangan menggunakan cara pandang pasar Kalangan, seperti yang dilakukan di dusun-dusun. Hal inilah yang akan memberikan kesan kesemerawutan. Jadi harus sudah lebih mengarah kepada penataan ruangnya, sehingga menempati daerah dan tempat-tempat tertentu yang akan menjadi Brand. Dengan demikian akan membagi central-central usaha atau ruang-ruang publik yang lebih spesifik. Seperti pusat perbelanjaan, pusat hiburan, pusat perkantoran, pusat kesehatan, pusat pendidikan, pusat pertanian, pusat perindustrian, dan pusat transportasi.

Semua ini tentunya harus diawali dengan kesesuaian kapasitas SDM dalam mengelola kepentingan-kepentingan pembangunan daerah. Sudah banyak bukti dalam pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh orang yang tidak sesuai kapasitasnya, seperti memberikan cangkul kepada pembuat kue atau meminta membuat bangunan kepada tukang jahit pakaian. Siapapun tidak menginginkan hasil pembangunan dari pesanan kepercayaan masyarakat tidak sesuai dengan ukuran atau porsinya.

Dengan memperhatikan rambu-rambu lingkungan, ruang publik dan keindahan, pembangunan masyarakat dan pemerintahan akan lebih hidup, lebih tertata dan akan berkarakter.

Kalau membaca berita yang ada di media massa , kota Lahat sangat butuh perhatian dari bidang kesehatan, pendidikan, pertaniannya dan perdagangannya.*)

1 komentar: