Mahasiswa STKIP SERA Lahat Bergejolak
Berita Lahat.
Selasa, 17 November 2008, Walebi bersama teman-temannya berniat menuju ke kampus STKIP Sera ketika 20 orang lebih mendatanginya. Perang mulut sempat terjadi, dan diakhiri dengan pemukulan Walebi oleh dua orang dari rombongan. Peristiwa ini terjadi pukul 14.30 WIB di simpang Telkom Lahat.
Seorang saksi yang masih teman Walebi, melihat peristiwa tersebut mengakui mengenali salah satu pelaku.
Alhasil, wajah Walebi lebam dan luka di hidung, pipi dan kening. Merasa teraniaya, Walebi melaporkan peristiwa pengeroyokannya itu ke Polres Lahat.
Sebelum pengeroyokan ini terjadi, Walebi bersama seluruh mahasiswa STKIP SERA mengadakan rapat besar guna menggugat pihak yayasan agar membenahi kualitas pendidikan di STKIP SERA baik itu sarana fisik, administrasi terlebih lagi sistem pengajaran.
Musyawarah yang berlangsung di pendopoan gedung pramuka Ribang Kemambang tersebut, dihadiri oleh 500 lebih mahasiswa/i, 14 November 2008, musyawarah itu berlangsung selayaknya demonstrasi.
Musyawarah tersebut guna menyatukan suara mahasiswa untuk menentang system pengajaran dan admisnistrasi di STKIP Sera.
Mahasiswa menuntut agar kebobrokan STKIP Sera segera dibenahi, terutama fasilitas yang minim, seperti belum adanya gedung sendiri yang membuat STKIP Sera ini menumpang pada SD Kartika Candra Kirana dan salah satu jurusan; Fisika, belum diperpanjang izin operasinya sejak tahun 2004. Hal ini membuat mahasiswa resah dengan status kesarjanaannya nanti.
“Pernah ada mahasiswa STKIP Sera yang tidak diakui izazahnya, dan pihak yayasan masih menerima mahasiswa sampai tahun 2008 ini,” jelas Walebi di sela-sela musyawarah.
Selain itu juga, mahasiswa mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan di STKIP Sera Kabupaten Lahat ini, biaya semester sebesar Rp. 1,3 juta, sedangkan menurut beberapa mahasiswa, program-program pendidikan tersebut tidak berjalan dengan apa yang diharapkan mahasiswa seperti PPL dan KKN.
“Seharusnya PPL diadakan diluar STKIP tapi kami hanya berada di ruang STKIP saja,” kata Putra, pernyataan itu juga dibenarkan oleh beberapa mahasiswa yang lain.
semenjak masa berdirinya, STKIP Sera telah meluluskan sebanyak tiga angkatan, setiap angkatan berkisar 30 sampai 50 wisudawan dan wisudawati.
Seluruh mahasiswa yang hadir membulatkan tekadnya meminta kepada pihak yayasan agar tuntutannya dipenuhi, untuk menyatukan persepsi seluruh mahasiwa membacakan sebuah deklarasi.
“Sebagai bentuk perlawanan mahasiswa, sebelum tuntutan kami dipenuhi, kami semua akan mogok belajar, mulai besok sampai waktu yang tidak ditentukan,” kata Yudi
Forum Mahasiswa Bersatu (FMB) dalam musyawarah tersebut membagikan selebaran yang berisikan 12 tuntutan
12 TuntutanMahasiswa STKIP SERA Lahat
1. Biaya administrasi KKN, (P4M), skripsi dan ujian serta wisuda yang dibebankan kepada mahasiswa terlampau tinggi, dan pelaksanaan wisuda sering ditunda.
Contohnya a. biaya P4M Tahun akademik 2007/2008 rp. 1.975.000 /mahasiswa
-biaya Skripsi 20062007 Rp. 1.500.000
biaya skripsi 2007 2008 Rp. 1.50.000
biaya wisuda 2007 2008 Rp. 3.800.000
penjelasan : penggunaan dana tidak jelas dan setipa tahun biaya mengalami kenaikan
2. Penipuan public di situs resmi www.stkipseralahat.ac.id mengenai sarana dan prasarana
3. Fasilitas yangtidak memadai dan tidak sesuai dengan biaya per semester, meliputi:
a. Tidak direalisasikannya oleh yayasan untuk membangun sarana gedung perkuliahan seperti tertera di www. Yang merupakan suatu kebohongan yang pada kenyataannya dapat dilihat pada lampiran
b. Kurangnya ruang kelas mengakibatkan seringnya mahasiswa tidak belajar (potre belajar di kolom terlamp[ir
c. Tidak adanya sarana pendukung seperti laboratorium, perpustakaan seperti yang tertera di www, tidak ada sama sekali, apalagi labpratorium computer, laboratorium IPA, dll. Fasilitas yang mereka sediakan hanya gedung perluliahan yang menumpang
d. Kampus menunpang di gedung SD Kartika II lahat milik yayasan kartika jaya dibawah PD II Sriwijaya, beralamat di Jalan Serma Jamis komplek SD Persit kartika jaya cabang lahat (dekat Pt. Telkom Lahat Benteng)
4. Mahasiswa tahun akadmik 2007/2008 belum meiliki kartu tanda mahasiswa (KTM) sampai sekarang
5. Izin operasional khusunya jurusan fisika tidak diperpanjang sejak tahun 2004 sampai dengan sekarang, namun pihak yayasan masih menerima mahasiswa baru untuk jurusan tersebut.
6. Tidak adanya dana kemahasiswaan, semua kegiatan tidak pernah mendapatkan dukungan dari pihak yayasan baik materi maupun moril.
7. Sistem manajemen pegelolaannya adalah manjemen keluarga. Staf pengelola diangkat dari mahasiswa yang masih aktif kuliah yang aggita keluarganya sendiri.
8. Mahasiswa diwajibkan membeli fotokopi buku yang nilai nya Rp. 200.000 dijual ke mahasiswa Rp. 75.000 oleh ketua I stkip sra lahat
9. PPL II mahsiswa tahun akademik 2005/2006 yang semestinya dilaksanakan diluar kampus (sekolah-sekolah) hanya dilaksanakan dilingkup kampus dan mengalami pengunduran satu semester oleh yayasan.
10. Terpisahnya lokasi secretariat admisnistrasi dengan kampus (lokasi perkuliahan) sehingga menyulitkan proses administrasi mahasiswa (sekeretariat di rumah ketua STKIP SERA lahat beralamat di Jl. H. Djamaan ST Sinaro terminal baru Muara Siban Lahat)
11. Tidak adanya pantauan langsung dariketua yaysan STKIP SERA terhdsap kegiatan belajar mengajar
12. Yayasan tidak berpihak kepada mahasiswa
(Pinasti S Zuhri)
Jumat, 12 Desember 2008
Kamis, 11 Desember 2008
Festival Seni Rakyat Perangai
Berita Lahat.
Dalam melestarikan seni budaya daerah menjadi sangat sulit dilakukan apabila tidak ada keperdulian dari masyarakatnya atau dari seseorang yang juga terpanggil untuk mengabdikan dirinya terhadap seni budaya tersebut. Seperti diketahui bahwa seni budaya daerah merupakan warisan nenek moyang yang sangat berharga, tetapi tidak semua orang dapat menerima dan dapat mewariskannya kembali ke masyarakat.
Masjayadi, S.Pd, (45) mengungkapkan kepada beritalahat beberapa hari lalu di kediaman salah satu tokoh gitar tunggal (berejung) Edi Hamdani (38) dan adiknya Eep (26) tokoh muda yang memiliki semangat berkesenian di Lubuk Betung 1. Masjayadi mengatakan keinginannya untuk menggali kembali dan menghidupkan lagi seni budaya yang berada di daerah Kecamatan Merapi Selatan, atau yang sering disebut Kecamatan Perangai. Masjayadi, sebetulnya baru beberapa hari mutasi dari SMA Negeri 1 Merapi Timur dan kini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Cabdin Merapi Selatan. Namun dirinya tertarik dengan keindahan alam Kecamatan Perangai ini, dan dirinya memahami akan asset budayanya yang cukup melimpah dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Lahat.
“Sayang pemerintah Lahat belum maksimal memberdayakan seni budaya dan daerah pariwisatanya. Perangai punya Gua Kelambit, Pelatihan Gajah, Air Terjun, Kiling Api, Batu Tiga Tungku, bukit-bukit yang memiliki nilai sejarah, banyak cerita mitos, tentang puyang dan masih banyak lagi,” ujar Masjayadi.
Sementara, Edi Hamdani yang cukup
Lain hal dengan Eep adik dari Edi, menurutnya, “Sebetulnya banyak yang mau belajar seni daerah seperti nari Erai-erai, Gending Sriwijaya, dan ngarak Penganten, tapi dak katik yang ngarahkannye. Jadi kami yang mude ni nunggu saje, kalu ade yang menggerakannye pasti banyak yang melok melestarikan kesenian daerah ini,” tuturnya.
Dari pembicaraan yang cukup panjang lebar ini, Masjayadi, S.Pd mencetuskan untuk mengadakan Pesta Rakyat Perangai, yang menghadirkan festival seni Perangai, lomba desa mengenai hasil seni kerajinan dan seni tradisi lainnya.
“Mengenai biayanya dimusyawarahkan dulu dengan Camat atau Bupati baru, atau dengan perusahaan seperti PT. Batu Bara Lahat, PT PAMA atau dengan PT BA, supaya Pesta Rakyat Perangai dapat terlaksana,” tandasnya. (Jajang R Kawentar)
Beritalahat.
Satriyani, gadis belia yang baru beranjak dewasa, meninggalkan rumahnya di Merapi Barat, pukul 10 pagi, 13 November 2008 yang lalu. Sebaris sebab kepergiannya tercatat di sebuah buku harian yang ia tinggalkan sebagai kenangan.
Satriyani dilahirkan 16 tahun yang lalu, ibunya bernama Pariana (43) dan Ayahnya Dani Kusno (47). Ia anak ke empat dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani karet. Sehari-harinya Satriyani jarang ke luar rumah, ia pendiam, namun teman-temannya sering datang bertandang ke rumahnya.
Sebelum pergi, Kusno sempat mendengar pembicaraan Satriyani di telepon genggam, saat ia sedang duduk di lantai bawah rumah panggungnya. Ia mendengar anaknya diajak seorang lelaki bertemu di Lahat. Namun Kusno tak begitu menanggapi pembicaraan anaknya. Satriyani mempunyai nenek yang tinggal di Lahat dan kakak perempuan yang bekerja di sana. Satriyani sering mengunjungi nenek dan kakak perempuanya itu. Kusno berfikir, mungkin laki-laki itu adalah teman anaknya di Lahat, Riko dan Nova.
“Mereka kayaknya becewe’an. Mereka ngomong kapan bisa ketemuan. Tapi Satriyani dak pernah cerita kalau die nak ketemu dengan yang namanya Riko atau Nova, sebelum pergi dia ngomong kalau ayuknya yang begawe di Lahat menelponnya, nyuruh ke Lahat. Kami percaye saje, dak curiga ape-ape. Biase die galak pegi sehari, besok paginya ia pulang,” kata Kusno.
Sampai keesokan harinya Satriyani belum berada di rumah. Padahal ia harus mengikuti pelajaran di sekolah, ia masuk siang. Biasanya, sebelum sekolah Satriyani pasti sudah berada di rumah. Kusno lantas menelpon anak perempuannya yang bekerja di Lahat. Satriyani tidak menemui kakak perempuannya.
“Waktu sekolah besoknye, dia belum juga muncul, mangke ditanyekan same kancenye, ditelpon ke ayuknye. Kate ayuknye, Satriyani dak nemui ayuknya.,” Jelas Pariana, sambil memetik sayuran yang baru dibelinya dari warung. Pariana berpesan sebelum Satriyani pergi, ia minta tolong bayarkan tagihan listrik sama kakak perempuannya
“Beberapa hari sebelumnya, Satriyani minta duit untuk bayar SPP sekolahnya, dan sudah dikasihnya. Jadi waktu dia ngomong nak ke Lahat dia cuma bawa duit untuk sekolahnye, HP dan juga Ijazah SD, SMP-nya dan foto-fotonya semua dibawa,” kata dani Kusno dengan raut wajah yang sedih.
“Satriyani anaknya manja, tidak terlalu banyak bicara, kami tidak terlalu banyak bicara, kami tidak pernah marahi dia. Dia juga jarang ke luar rumah, kalu tidak kawan-kawannya yang datang ke rumah,” jelas Pariana.
Kami sudah menghubungi saudara-saudara yang ada di Lahat, pagar Alam, Bengkulu, dan Lubuk Linggau, jawabnnya tidak ada. Bahkan dani kusno telah meminta tolong tetangganya di Lubuk Linggau, Walnasri untuk mengecek rumah Riko, satriyani tidak ada di sana. Walnasri belum bertemu dengan Nova.
“Entah, mesti minta tolong sama siapa lagi, sementara uang kami sudah habis,” kata Kusno, ia menarik nafas panjang, matanya berkaca-kaca.
Di sekolah, Satriyani mempunyai teman dekat, Fiti dan Rahmayana. Mereka satu kelas di SMA Negeri Merapi timur. Di hari pertama kepergian Satriyani Fifi mendapat SMS dari Satriyani, pukul satu saing, Satriyani memberi tahunya lupa membawa rekening listrik.
“Aku tidak tahu jika mulai hari itu Satriyani tak pulang ke rumah,” kata Fiti.
Fiti dan Rahmayana tempat saling berbagi cerita, termasuk tentang sekelumit perasaan terhadapa lawan jenis. Kedua temannya ini sangat prihatin dan cemas ketika mendengar kabar bahwa Satriyani tak kujung pulang ke rumah. Mereka takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka berdua pun berusaha mencari tahu keberadaan temannya ini.
“Satriyani pernah cerita kalau mau ketemuan di Lahat dengan pacarnya yang kenalan di hp itu. Saya menyarankan supaya kenalannya itu di suruh ke rumah saja. Tapi Satriyani berkeras menemuinya di Lahat,” kata Fiti.
“Riko itu kenalannya di HP, orang Linggau, alamatnya ada di buku diarynya,” sambung Rahmayana.
“Malam kedua setelah kepergian Satriyani, kami coba lagi menghubunginya, hp nya masih aktif. Tapi setelah itu Hp dimatikan sampai sekarang.”
Setengah Hari di Sungai Lematang
Puisi
Pinasti S Zuhri
Sungai Lematang mengalir ke hati kita
deras tersenyum pada pecahan batu
membiarkan duka dan luka hanyut
dan tenggelam tanpa air mata
“Seperti apa aku?” tanyamu
“Kau seperti kupu-kupu di antara bunga,” jawabku.
“Aku tak sampai kesana.”
“Mungkin juga seperti kupu-kupu di bebatuan sungai
Lematang,” jawabku dalam hati
Air itu kini menggenang namun kini di matamu
Mungkinkah kita sedang mengasihani diri
atau menyendiri menikmati nostalgi
sepuluh tahun kemarin mungkin kita tak seperti ini
Sudah sore, kita harus pulang
Menemui orang-orang yang menyayangi, mengasihi dan
mencintai kita
Di waktu yang tersisa di malammu
Sempatkanlah melihat cermin yang memantulkan wajah
indahmu
13 Agustus 2008
Bungkusan Kacang
Cerpen
Jajang R. Kawentar
UDARA Minggu malam telah membekukan tubuh, kaku kikuk. Angin berhembus seperti mesin jahit, jarumnya menusuk-nusuk menembus kulit ari-ari sampai ke hati. Di sini, Mulyadi duduk di teras, ya di sini di Stasiun Kereta Api Gambir yang mencibir. Burung Gereja berjejer empet-empetan menghangatkan tubuhnya di atas palang kayu, salah satu konstruksi bangunan Stasiun. Di bawahnya terhampar tainya bergunung-gunung kecil, menghiasi lantai. Orang-orang lalulalang seperti linglung, bertepuk tangan dengan pandangan manis mengamatinya sinis dan bengis.
"Tuhan! Udara, Tuhan! Tak kenal kompromi. Hari ini aku benci setengah mati. Seharian bekerja banting tulang untuk makan keluarga hanya dapat tiga ribu tiga ratus
Duduk termanggu menunggu jalan keluar dari penyakit rasa lapar yang menghajar keluarganya. Stasiun tak pernah sepi, orang silih berganti. Pulang dan pergi kembali. Bukan kayanya lagi, dia mengintip hampir setiap yang lewat.
"Tuhan! Mengapa aku tidak jadikan orang kaya saja? Supaya tidak terlalu banyak mengeluh atau cabut saja nyawaku dan nyawa keluargaku! Kalau bisa, bebas tugaskan saja saya ini dari hidup. Tapi jangan suruh kami bunuh diri, karena kami tak kuasa dengan dosa. Oke?"
Dingin makin menjadi, menggigilkan tubuh kurusnya. Gemeretak gigi, kulit merinding menyelimuti, napas normal menguasai.
"Terima kasih Tuhan, kasih-Mu masih kurasakan sekarang. Tuhan, bolehkah malam ini aku tidak pulang ke rumah? Hanya malam ini saja lho! Boleh
"Haruskah bersedih menangisi keadaan malam ini??? Sorry saja. Kami sudah biasa berpuasa, tanpa mengenal jadwal hari dan bulan. Puasa mati geni, puasa Daud, pernah kami coba semua. Bila keadaan memungkinkan begitu, setiap waktu bila perlu. Siapa takut? Dia menata pikirannya.
"Dulu waktu penjajahan Belanda dan Jepang tidak begini sulit cari duit! Zaman revolusi juga tidak seburuk ini, dia masih ingat dongeng kakek dan bapaknya yang bilang, begitu sebelum meninggal. Malam terasa merambat lambat. Pasti bukan barangkali, demikian juga yang dirasakan anak bininya, menanti dia kembali membagi rezeki. Mulyadi sering bilang pada mereka: Makan nggak makan yang penting kumpul. Entah mengapa malam ini dia tidak berani pulang, berkumpul bersama-sama menahan rasa yang sama, berbagi rasa nyeri agar jangan sampai ke ulu hati, apalagi mati. Ini bukan aksi mogok makan, ini kenyataan. Rawan pangan mengadang, gizi buruk nyeruduk, perut-perut terpuruk ambruk.
"Tuhan, hanya Kaulah yang dapat kuajak bicara, diskusi, seminar semauku. Aku sangat percaya pada-Mu lho. Sweare. Daripada pada orang-orang sekarang. Edaaan!"
** *
Malam bertambah malam, kian lekat hitam legam. Namun ini Jakarta, sekali lagi ini Jakarta. Malam bak siang. Matahari berganti lampu-lampu neon, terang benderang di mana-mana. Ibu kota negara Indonesia bermandikan cahaya, tetapi tidak semua. Tempat tinggal Mulyadi tetap kelam bila malam menjelang, tetap kumuh dan berwarna kusam. Hanya segelintir lampu sentir atau lilin yang menyala dan bila waktunya tidur tinggalah cinta yang menyala-nyala, selain itu mati kutu. Kalau api yang menyala, bahaya. Penduduk di situ bilang: Rumah kami rawan kebakaran sebab kontruksinya kardus dan pelastik, interiornya pun begitu. Seperti seni instalasi, bisa dibuka kapan saja dan dipindah secepat kilat bila ada petugas kampret. Kalaupun tergusur, diusir, dibangun lagi di situ. Tidak terlalu susah, bahan mudah didapat. Kardus bekas, plastik bekas. Rumahnya dekat pembuangan sampah. Sungguh mengasyikkan, bau sengit menyenangkan, tak sebiasa membau parfum. Mereka terbiasa tergusur, apalagi terusir. ]
"Habis mau kemana lagi, kami tidak punya tanah, air, apalagi rumah?"
"Lho. Ape lu kagak kenal ame yang namenye Sumpeh Pemude 1928, ape sumpeh tuh udeh jadi sampeh?" terdengar suara berbisik di kuping Mulyadi seperti malaikat pembela kebenaran sejarah. Mestinye lu nuntut, hak lu. Goblok!"
"Nuntut? Nuntut gundulmu."
Pasti malaikat ini baru diterima kerja, mungkin sedang di-training. Sama saja, malaikat juga ada yang bodoh seperti aku. Biasa, pikirnya. Dia masih di teras seperti tadi memeluk lutut, membayangkan yang bukan-bukan. Tidur di ranjang, pake kasur busa, penghangat ruangan, pelayan, istrinya bersolek di depan meja rias, anaknya Tini, Toni tidur di kamar sendiri, minuman dan makanan komplet dalam kulkas. Dia tidak usah memikirkan besok makan apa, tidur di mana, hujan atau banjir, menikmati hidup empuk, kekayaan, kekuasaan, dan kebesaran Tuhan.
"Jo, Karjo! Tolong cuci BMW merah, nanti siang aku sidang di gedung MPR DPR lho." "Pak, sarapan sama apa, pak? Ibu nanti pergi arisan lho ke tempat Ibu Mentri, mungkin pulangnya agak terlambat. Katanya, bapak sekarang diangkat jadi mentri?"
"Yah, Ayah pake Mercy biru saja ya. Toni mau pake BMW merahnya, ya.”
" Mercy biru
"Ah, lagi males."
"Ya sudah ibu nanti pake yang Kijang saja." "Tini ke mana bu, dari tadi bapak nggak lihat."
"Dia
"Toni tahu, paling ngeceng di mal pak."
"Besok beli saja alat-alatnya itu, jangan sampai dia kena pengaruh teman-temannya yang tidak waras. Mabuk obat terlarang. Bapak kan dapat proyek lagi, jadi belilah keperluan Tini itu, biar nggak usah keluar. Kalau perlu private dirumah."
"Bang, permisi bang," tukang ngepel mengelap bersih lantai di sekitar Mulyadi dan lamunan kotornya. Dia menjadi bimbang, pikirannya berperang antara pulang atau tetap tinggal di teras yang kini telah bersih. Dia malu pada tukang ngepel, karena punya pikiran kotor. Ia ingin sekali meminjam lap pelnya, untuk membersihkan kotoran yang ada di kepalanya.
"Tuhan, sekarang saya tidak tahan menahan haus dan lapar. Apakah Kau tidak lagi berpihak padaku? Kau berpaling dariku atau Aku yang telah berpaling dari-Mu? Sungguh aku malu lho, tidak tahu. Engkau Mahatahu." Tukang ngepel masih berdiri di situ, menatapnya iba.
Dia pergi, menyelinap dikerumunan orang yang antre membeli karcis. Mulyadi tambah terpukul, dia ingin menjerit ke langit protes pada Tuhan dan berteriak pada penguasa.
"Apakah mereka itu semua buta Tuhan atau telah Kau butakan? Apa mereka tidak dengar perut kami bernyanyi keroncongan dari sejak lama. Apakah mereka tuli, Tuhan, atau telah Kau tulikan?" Tiba-tiba tukang ngepel menghampirinya dengan memberikan bungkusan dalam kertas.
"Bang, saya punya sedikit makanan. Lumayan ganjel perut," dia mengerti, tukang ngepel itu mengerti apa yang sedang Ia rasakan.
"Terima kasih, semoga Tuhan membalasnya yang layak," dia memanggutkan kepala.
Tukang pel pun begitu, lalu pergi. Isi bungkusan itu kacang godok. Dia jadi ingat istri dan kedua anaknya Tini, Toni. Dia tidak berani memakannya, ini pasti untuk anak dan Istri, bukan miliknya sendiri, pikirnya. Iseng-iseng dia buka bungkusan itu, sekadar ingin tahu kertas pembungkus kacang itu. Dia kaget, ternyata bungkus kacang itu Surat Keterangan Kelakuan Baik. Dia bertambah kaget, di sana tertulis jelas huruf besar dan tebal. Nama yang sama dengan namanya
"Dia masih mending punya Surat Keterangan Kelakuan Baik. Aku boro-boro, KTP saja tidak punya. Sial! Apa surat ini punya tukang ngepel tadi ya? Ah mungkin dia sudah tidak membutuhkannya, dia sudah kerja."
"Pak Mul! Pak!" terdengar suara berteriak memanggil namanya. Dia menoleh ke arah datangnya suara. Tukijan tetangganya, teman seprofesi itu datang tergopoh-gopoh.
"Pak Mul, sejak siang tadi kami sekampung mencari-cari Bapak."
"
"Pokoknya Bapak cepat pulang! Penting!"
"Aku tak kuat berjalan, Jan." Mendadak kaki dan tangan Mulyadi tidak berfungsi, lemas.
"Kita naik bemo saja. Ayo cepat!" Di dalam becak penasaran Mulyadi kian memuncak. "Sebetulnya ada apa, Jan?"
"Tadi siang Tini dan Toni muntah darah, katanya sih keracunan! Entah kena peluru nyasar tentara......" Sejak itu Mulyadi tidak ingat apa-apa. Dia sadar telah berada di Bangsal rumah sakit dengan slang infus menembus urat tangan. Dia tidak dapat bergerak sedikit pun.
Tukijan masih di sampingnya seperti di dalam bemo. Dia berbisik:
"Istri Bapak masih pingsan, Tini dan Toni telah dikuburkan dan uang Bapak aku pakai bayar bemo. Ini kacang godognya.”
" Tukijan memberikan bungkusannya. "Jan, tolong sampaikan pesan buat tentara, senjata itu bukan untuk membunuh rakyatnya yang tidak berdosa......tanyakan pada mereka, darimana biaya untuk beli senjata itu?"
Dahlia Rasyad
Ribu angkasa
balutan khutbah pengantin renta
beringsut lepus
menggumpal
mengarak ke langit tembaga
nyaris tanpa tilas
sembari lentera mengarang
bertelanjang pada malam gigil
tapi longlong anjing
terlanjur membuatmu merinding
tersisa kisah tentang kegelapan
“kerentaan adalah cacian jalang dalam dalang belulang. memburu serigala-serigala murtad yang mencelupi vagina babi hutan dengan lendir amis di kelangkaan hari yang semakin melotok. dengki menyedot ketakutan hingga tak terpintal, mengulas bijak tersengal-sengal. dia, diantara yang tak bernama, menghitung kepedihan setiap kali pusara-pusara menggugus. menculik binar untuk senyap. pada kala itu, kesuraman jatuh pada hari syin, karma dari zal yang berulang pada zai. kau akan melihat betina-betina tak lagi bunting untuk ribuan ratus puluh abad kemudian”
hari
lembaran-lembaran sesak
penyesatan
“dan perjalanan hanya sebungkus penantian, kepergian pilu menembus sarat sulang jelaga dalam epos Tuhan. sayap-sayaplah yang akan menyelamatkanmu dari kesendirian, menyingkirkan kegagalan ke belakang dan mengenyahkan kebusukan bingar yang meradang. kau mungkin akan terharu, mendengar rahim ibumu mengerang di sayat sembilu dan melihat nadir ayahmu terjagal habis”
di penghujung
anyir nafas tinggal legenda
pembunuhan tak berdosa
“penghianatan bukan lagi angkara, semacam fantastisasi mimpi buruk yang kerap kau ingat kembali dengan keras, menangkis seluruh realitas. aku yang terlanjur hina semakin berserpih dan tercerai dalam ketakterbengkalaian karena manis ingkar dan pahit penciptaan dalam sebuah perjanjian”
ingatan
buruan waktu
terdesak kian himpit
“pada akhirnya kepasrahan adalah ihwal petaka. pemujaan menambah sengit kutukan menjadi sebuah kekosongan, terkunci di muara-muara pemberontakan hingga kita benar-benar kehilangan...keabadian”
syair
pelepah
tak bersyarah
Cerita Pendek
Dahlia Rasyad
SUASANA di dalam gedung redup. Tiga mikrofon yang menggantung di langit-langit panggung hidup. Di tengah-tengah panggung itu berdiri seorang laki-laki dengan setelan kaos oblong dan celana jeans biru. Ia disebut-sebut pak Hakam, orang yang tidak biasa berada di sayap kiri atau kanan. Lampu tembak mengarah padanya, ia terlihat sibuk memperbaiki peci dan membetulkan lintingan kumis bauknya yang nyaris menancap ke lubang hidung. Lalu ia mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah lembab, mengelap-elap leleran ingus yang terus hendak keluar dan, “Srottttt! Srotttt!” gumpalan ingus kental keluar dari lubang hidungnya yang sebesar mulut gua itu. Penonton risih, lelah menunggu.
“Saudara-saudara, apakah kalian sudah makan siang?” kata pak Hakam membuka acara.
“Belummm!!” jawab penonton.
“Kalau begitu kita semuanya lapar dan bersiap-siap kelaparan karena acara ini dijadwalkan dari jam 1 sampai dengan selesai,” katanya.
Semua penonton tak bergeming lalu duduk dengan pose masing-masing.
“Marilah kita mulai acara dengan melempar koinnya, bagaimana, adil?” tawarnya.
“Adilll!!!” teriak penonton.
“Gambar kepala untuk pihak di sebelah kiri saya dan gambar ekor untuk pihak di sebelah kanan saya.”
Dengan satu lemparan dan,
“Kepala!”
Pihak yang tersebut, mengangguk, pertanda pihak ekor harus menunggu.
“Demi hidupnya kesenian dan demi kehidupan seniman, saya, tanpa adanya agitasi dan intervensi apapun, murni menentang pendirian negara diatas negara hanya dengan kekuatan agama. Sebagai landasan humanisme yang universal, saya berani menyebutkan bahwa seni memiliki ruang sendiri tanpa harus dicampuri dengan doktrin-doktrin apapun yang mampu mengancam keberadaannya,” kata si juru bicara kepala mendahului, “bagaimana pak Hakam, apa anda punya komentar?” lanjutnya dengan atribut janggut yang berserabut.
Sang Hakam yang ditanya mulai mencerna, memasang posisi di tengah lalu bersendawa sebelum akhirnya melontar kata, “seni bagi saya, adalah suatu urusan ruh dan jiwa sebagaimana agama juga urusan ruh dan jiwa. Dua blok ini sama-sama diluar urusan dunia, diluar urusan badaniah.”
Tiba-tiba yang sedari tadi menunggu giliran, langsung menyela, “tetapi seni bukanlah agama yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang murni, yang bukan didasari oleh tradisi, tidak mampu diombang-ambing budaya apapun, hidup disepanjang peradaban, dan punya sanksi hukum yang jelas. Sedangkan seni itu no rules! Jadi agama tidak bersifat imajis meski kedudukannya berada secara psykis. Lagipula seni punya sebuah paradigma pada urusan dunia dengan adanya politisi-politisi elite kesenian maupun elite kebudayaan, sedangkan agama sama sekali tidak ada tendensi ke arah sana,” tangkisnya.
“Interupsi!” cegat juru bicara kepala. Penonton terkesima.
“Tapi agama menghidupkan seni! Toh saya menegakan agama diluar konteks seni. Saya punya keyakinan yang hanyalah Tuhan yang tahu sebesar apa keyakinan saya. Sedangkan keyakinan saya atas seni, itu hanyalah manusia yang tahu sebesar apa,” katanya, “anda seolah-olah ingin mengklaim bahwa seni adalah tolak ukur iman seseorang. Ini adalah sebuah jebakan! Itulah yang sesungguhnya sebuah politisi!” kerasnya.
Ruangan gaduh. Para penonton yang sedari tadi seperti angin mati tiba-tiba seperti angin ribut. Disusul pula dengan dentuman bedug yang bertalu-talu. Kubu barisan ekor yang berada di sebelah kanan sang Hakam mulai kepanasan. Sedang kubu yang berada di baris kiri, terlihat sedang komat-kamit membacakan mantra penghilang kegugupan alias mabok. Lalu sang Hakam sibuk menenangkan suasana sambil mengelap gumpalan ingus yang tak mau lagi mendekam di lubang hidungnya.
“Tenang saudara-saudara, kita harus mempelajari objek permasalahannya dulu sebelum kita memberi kesimpulan yang sepihak. Bagi saya, seks itu semacam oposisi eksistensial yang memiliki validitas dan truth. Sama halnya dengan agama yang juga memiliki validitas mutlak dan truth yang murni!”
Penonton yang diajak diam, betul-betul terdiam.
“Oposisi yang bagaimana maksud pak Hakam?” tanya kedua kubu yang bertikai, bersamaan.
“Posisi dimana mengambil sebagian masing-masing wilayah dari sirkel seni dan sirkel agama. Kita tidak bisa sepenuhnya menolak seks tetapi juga bukan berarti harus mengagungkan seks diatas segala-galanya!”
“Lalu validitas dan truth untuk kepentingan siapa pak Hakam?” tanya kubu ekor.
“Untuk siapa saja. Bukankah anda punya anak?” tandasnya. Juru bicara ekor terdiam.
“Artinya seksualitas itu humanis,” kata pak Hakam.
Lalu pihak kepala langsung menyela, “seperti yang saya katakan tadi, seni merupakan humanisme universal yang umat manapun baik kafir maupun agamawan berhak memilikinya.”
“Anda memperisaikan humanisme untuk mengabsahkan unsur sundal dalam pornografi. Pandangan anda sendiri sudah tidak universal!” tolak kubu barisan ekor.
“Yang penting seksual adalah humanisme mutlak yang anda sendiri mungkin gigih menikmatinya,” tancap si janggut sekenanya.
“Hahaha…haha,” sontak penonton terbahak-bahak. Suasana riuh. Pak Hakam tak sempat bicara lagi. Kedua kubu melewatinya begitu saja.
“Dalam kasus seksualitas, manusia tidak boleh semata menjunjung humanisme. Dalam artian, harus ada sebuah dehumanisasi yang mengendalikan kepurbaan umat manusia, mengingat kepurbaan itu sendiri tidak geogratif dan begitu strategis,” tampiknya.
Tawa penonton kembali meledak, kali ini pertahanan bagi kubu ekor. Seisi ruangan terpicu dengan berbagai paradigma alasan, dalih, dan alibi untuk menangkis hujatan.
Lalu si ekor melanjutkan uraiannya, “tugas manusia itu bukan hanya menjaga sisi manusiawi tetapi juga mengendalikan kemanusiawian itu sendiri. Dan itu berarti anda secara tak sadar sudah melakukan resistensi terhadap perkembangan peradaban.”
“Termasuk budaya premanisme agamis?” tampik juru bicara kubu kepala.
“Itu sebuah aksi unjuk ketidaksetujuan ketika nilai-nilai moral sudah dikikis oleh unsur-unsur kapitalisme ekonomi, bukan gerakan non mission yang tidak berfundamen sama sekali.”
“Anda bermaksud mengklaim bahwa itu jihad, tetapi tendensinya ke rumus perusakan dan kerugian. Semua orang bisa melihat kalau itu sebuah tiran sosial yang dilakukan oleh elite agama. Anda sudah menggunakan dalih agama untuk mengabsahkan fanatisme anarkis. Kecenderungan anarkisme seperti itu sudah menyalahi konstitusi. Secara otomatis kalian sama dengan ingin mendirikan negara sendiri,” bela kepala lagi.
“Hujatan anda dimainkan oleh analogi prasangka yang menjorok ke fitnah! Kami hanya minta diperkecil, jangan sampai unsur seni menjorok kearah kemaksiatan yang kemudian ke kemiskinan iman. Bangsa kita tidak hanya dicokoli oleh kaum elite kesenian, bukan?”
“Tetapi kebebasan berekpresi di atas negara ini berlaku di negara manapun. Dan itu merupakan suatu fundalisme kesenian yang utuh. Hak Azasi Manusia yang utuh!”
“Liberalisme berkesenian seperti itu sudah dikontaminasi oleh budaya Barat sehingga mereka menjadi kehilangan sensibilitas terhadap diri maupun agamanya. Sebenarnya yang menjadi produk seni Barat bukanlah objeknya tetapi subjeknya sendiri, dalam artian si agent dan actor-lah yang merupakan produk itu sedangkan pornografi sendiri hanyalah konsep pengemasannya belaka!” ketusnya.
“Saya jadi tidak percaya masa depan generasi muda di tangan para seniman!” tambahnya.
“Huhhhh!” seru penonton. Mereka merasakan alternan ego juru bicara dari kubu ekor.
Sang Hakam kembali mengendurkan ketegangan di ruang itu. Menggerak-gerakkan kedua tangannya ke atas seperti sedang mencegah angkutan publik melintas di jalur kereta api.
“Tenang bapak-bapak yang saya hormati. Sebelumnya kita harus membahas terlebih dahulu apa itu seni dan apa itu pornografi. Bagaimana, setuju?”
“Setuju!!!” teriak para sukawan yang sedari tadi menyimak.
Pak Hakam tiba-tiba bersendawa dan kembali mengelap lelehan ingus yang sudah mencair dingin. Lalu tiba-tiba pula dari belakang tirai ruang muncul sebuah poster berukuran raksasa dengan gambar yang sangat oriental dan original alias asli buka-bukaan. Sebuah photo klasik dua pasang insan yang dibingkai dengan ukiran jepara pada zaman neo kolonialisme, digiring memutar bergantian oleh konco-konco beraliran kepala, berjalan seperti sesi pergantian rounde tinju kelas bulu.
Semua penonton dan kubu ekor tak bergeming di buat phenomena itu. Sekadar ingin menunjukan kepastian seni atau memang ‘suka’ memanjakan mata. Entahlah. Sedang si juru bicara kubu ekor langsung memejamkan matanya dengan kedua tangan.
“Maaf apakah ini yang disebut seni? Kenapa tidak manusia benerannya saja yang beraksi di panggung ini. Biar kita tahu seni benerannya?”
Sang Hakam bersendawa lagi lalu mendekatkan mulutnya ke telinga si kubu ekor dan berbisik, “modelnya minta pengaturan MoU terlebih dahulu.”
Si pihak ekor beserta kubunya tersenyum tipis. Dan suasana pun menjadi setengah bising. Sinyal kemenangan atas kejujuran fakta.
“Suruh salah satu seniman saja yang beraksi,” tukasnya. Pak Hakam menyeringai sembari melihat-lihat penonton sayap kiri.
“Seni yang mengandung aura pornografi sama sekali bukan dihasilkan dari kecerdasan intelektual dan spiritual tetapi hanya dorongan emosional belaka,” lanjut kubu ekor.
“Penciptaan karya seni memiliki sistem kapitalisme sendiri yang melepaskan diri dari keduniawian dan finansial. Kapitalisme seni untuk urusan pornografi merupakan bagian perenungan terhadap ciptaan Tuhan,” tampik kubu kepala.
“Lalu bagaimana dengan ciptaan-Nya yang lain? Secara sosial dan moral, itu justru merupakan upaya mensejajarkan Tuhan dengan kelamin. Sistem kapitalisme seni yang mencoba mencari popularitas dan eksistensi sambil beronani!” hujat kepala kubu ekor sambil mendelik.
“Secara estetis, kebugilan manusia merupakan pengertian transendental dari hirarki manusia. Filosofis yang terkandung di dalamnya merupakan kebenaran mutlak dimana manusia itu sesungguhnya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa!” timpal juru bicara kubu kepala tak kalah delik.
“Apa anda berani jamin kalau stimulasi seksual dari aura pornografi tidak akan membuat anda ‘berdiri’?”
“Hahaha…haha,” kali ini gelak tawa semakin menjadi-jadi. Juru bicara kubu ekor sudah mulai liar. Penonton semakin memadati pelataran dan balkon-balkon gedung. Sesak. Sejak gambar itu dipertontonkan.
“Disebut porno kalau tujuan utamanya sengaja menimbulkan birahi,” lanjut kubu ekor, “kalau birahi tidak timbul maka itu bukanlah sebuah pornotis, dan jelas saya tahu itu. Namun, perlu kita telaah lagi, penyebab tidak timbulnya birahi atau tidak adanya gejala ketegangan hormon ketika melihat objek pornotis. Sebenarnya ialah karena seseorang itu sudah kehilangan sensitifitas yang mungkin disebabkan karena sudah kebanyakan terkena serangan-serangan birahi alias keseringan nonton yang ‘begituan’,” katanya sambil memainkan dua jari di samping kepala, isyarat kutipan, “lagi pula siapa yang bisa mengukur birahi itu dan siapa yang mau mengakui kalau dirinya sedang ‘naik’?!” ketusnya lagi mengulangi tanda kutipan, “pokoknya agama bisa mengkepalai seni tetapi seni tidak bisa dan tidak boleh mengkepalai agama. Titik!”
Sang Hakam terdiam, begitu pun penonton. Mereka tampaknya tengah mengecek diri dan introspeksi. Gedung menghening.
Tiba-tiba seseorang dengan kaos oblong berlapis jaket kulit menaiki panggung. Sebelum berbicara, ia mendehem.
“Ehm hem!”
Semua mata menancap ke arahnya. “Saya mau mendehem, mau bersin, mau mabok, mau berak, mau kencing, itu terserah saya,” katanya datar tanpa intonasi menyerang, “yang ingin saya lakukan adalah apa yang jiwa saya suruh. Saya ini budak dari jiwa saya sendiri. Saya ini pesuruh yang rajin menuruti batin. Saya ini manusia terkutuk!!!” ricuhnya.
Suasana makin hening. Para kubu sayap kanan belum berani berasumsi sementara dari kubu kiri sendiri seperti diambang awan. Jiwa mereka sendiri menggapai-gapai kemenangan. Kemenangan sendiri, kemerdekaan sendiri. Dan pak Hakam, ia pergi digusur terompet dan gendang yang terus memekakan telinganya. Ia pergi ketika kaum kepala mengambil tempatnya lalu berdakwah melalui bunyi bahasa.
“Ibumu, ibumu. Ibuku, ibuku! Jangan setubuhi ibuku karena aku tidak menyetubuhi ibumu!” kata mereka.
Penonton kembali riuh, berdialog dengan teman-teman melontarkan kebingungan. Mereka sudah banyak menyimak perseteruan tanpa ada solusi apa-apa. Sebagian mulai melempar bungkusan-bungkusan plastik dan rokok ke arah pak Hakam, sebagian lagi menungging-nunggingkan bokongnya ke manusia-manusia panggung di depan.
Salah satu penonton dari barisan belakang berteriak, “lalu bagaimana keputusannya pak Hakam? Apa mesti status quo lagi?”
“Tenang tenang, saudara-saudaraku sekalian!” kata pak Hakam.
“Jadi, itu seni atau pornografi pak?”
“Itu seni!” tancap kubu kepala memotong pak Hakam.
“Iya seni, seni pornografi?” timpal kubu ekor menyinggung.
“Jadi apa itu apa pak Hakam?” desak beberapa penonton yang sudah tidak sabar ingin mengakhiri acara.
Pak Hakam semakin bingung, terjepit dalam waktu yang semakin tipis dan suasana yang tak kondusif lagi. Sementara penonton kian gencar mengumandangkan pertanyaan-pertanyaan.
“Saya akan susun ulang amandemennya. Sementara ini pakai saja otoritas kalian masing-masing dulu,” katanya.
“Tapi pak Hakam,” protes mereka.
Pak Hakam langsung memukul palu. Gaungnya menghentikan semua kericuhan. Tak ada lagi pengadilan. Tak ada lagi pertanyaan. Semua kembali ke individu masing-masing, menjawab pertanyaan masing-masing. Tanpa noktah apa-apa, ia kembali ke belakang panggung sambil menahan ingus kuning kental yang sedari tadi hendak meleleh dari lubang hidungnya. Sial!
Langit Pecah
Cerita Pendek
Pinasti S Zuhri
Aku ingin melihat kala langit gelap, merasakan guruh dan
“Adakah suara kejenuhan meluruhkan perasaan?” sekarang yang kulakukan hanyalah menunduk, menghempaskan tubuh pada sebuah angan.
“Keramaian ini adalah duniamu, jangan berlari, rangkullah kepenatan dalam suaramu, detik-detik akan terus berlalu dan jawaban pasti selalu ada, tampakkanlah mukamu, jangan ada kecut di
Dikejauhan pandang kulihat ibu dan ayahku menempuh perjalanan panjang. Mereka mengandeng seorang anak, dia riang berlari-larian di jalan bertabur bunga, rindang pepohonan yang menjaganya dari sengatan matahari. Kedua orang tuaku tersenyum, anak itu dipeluk lalu digendongnya.
“Jangan hanya melihat dengan matamu, kau rasakan lagi, sesuatu yang tampak di matamu mungkin tak sama dengan rasamu, lihatlah dengan hatimu.” Orang tuaku begitu menyayangi aku.
Pohon-pohon itu melambai lagi, seakan mengajakku bermain-main, tapi kakiku enggan beranjak dari dinginnya air sungai ini. Rembulan memantulkan cahayanya, aku dapat bercermin, wajahku meliuk kesana-kemari, senyumku pun tak jelas, lalu gelembung udara berterbangan dari tepian pasir hitam yang kupijak. Kelelawar itu, tetap seperti bintik-bintik hitam, mereka melayang dan menukik, menyelip di pepohonan, mereka tidak takut pada malam, mereka tidak mencemaskan kegelapan. Aku masih berdiri, diam terpaku merendam kaki di sungai, sendiri.
Sebentar lagi aku akan pulang, bila ibu sudah memanggil, ibu yang tak jemu memberiku segalanya, kasih sayangnya, cintanya, doanya, air matanya, tulangnya, darahnya, air susunya, tenaganya dan tak terhitung apa lagi pemberiannya. Aku sayang ibuku.
“Pulanglah nak, malam tlah larut, nanti kau masuk angin.” Suara ibuku merdu sekali, lembut tak berbanding, aku menoleh, dan tampak di mataku wajah cemas di antara kerutannya. Aku mengangguk.
“Istirahatlah, nanti lelah berselimut di tulangmu,” lanjut ibuku ketika aku sampai di garang rumah panggung kami.
“Iya bu.” Aku menggandeng tangannya, hangat sekali, tangan inilah yang membesarkanku, tangan ini begitu kuat, ia mencengkram waktu, ia menangkis kesengsaraan, ia menggenggam harapan, demi aku.
Aku berbaring di tikar purun, seketika mataku menatap atap rumahku, rumah kayu yang lapuk, sarang alab-alab di sana-sini, aku menoleh ke ibuku yang duduk di dekat lampu minyak tanah yang redup, tangannya memegang sehelai baju, dan menusukkan jarum yang teruntai benang warna putih, aku berbalik.
“Ibu perhatikan satu minggu ini kamu terlihat gelisah, sering melamun dan menatap kosong, ada apa Mud?” tanya ibuku, aku tak berani menjawab, tentunya aku akan menjawabnya dengan kebohongan dan pasti ibuku akan tahu kebohongan itu.
“Tidak ada apa-apa bu,” jawabku pelan.
“Kamu bosan makan ikan asin.” lanjut ibuku.
“Tidak bu,” jawabku.
“Hidup ini seharusnya dapat berganti, seperti hari-hari yang kita lewati, kita hanya melihat, menemukan, mengerjakan yang itu-itu saja, dulu ibupun pernah mengajak ayahmu untuk pergi dari desa ini, mencari penghidupan yang baru, mengadu nasip ke tanah orang.” Ibuku menarik nafasnya, ia hentikan menjahit. Aku duduk menyambar segelas air dan memberikannya.
“Tapi, ayahmu itu orang yang gigih, dia tak begitu saja menyerah, ia terus menggarap tanah di sini, ia berhasi, padinya tumbuh dengan lebat, sayur-sayurnya hijau, ikan-ikannya besar, tanah dan air di sini memberi kehidupan yang baik, sampai suatu saat, air sungai mulai menguning, berkarat dan bau, tanah-tanah kehilangan suburnya, pepohonan habis ditebang, ayahmu protes, ia mendatangi pabrik yang merusak tanahnya, ayahmu seperti banteng terluka, ibu tak dapat mencegahnya, akhirnya puluhan penjaga pabrik itu mengeroyok ayahmu, tapi ia tak berlari, ia terus merangsak maju sampai akhirnya ia harus roboh.” Ibuku meneteskan air matanya.
“Sudahlah bu, jangan dikenang lagi peristiwa itu,” kataku sambil menunduk. Andai semua kenangan itu dapat kuambil dari ibuku tentunya ia takkan pernah meneteskan air mata lagi.
“Ayahmu sangat ingin menyekolahkanmu di
“Apakah ibu mengizinkan, jika Mahmud mencari penghidupan di tempat lain?” Ibuku tersenyum.
“Kau laki-laki, kejarlah apa yang kau cita-citakan, ibu akan selalu mendoakanmu,” kata ibuku.
“Lusa, Mahmud akan merantau bu.” Ibuku mengangguk.
Aku pamit, kucium kedua tangannya, kendati berat meninggalkan kampung halaman, meninggalkan semua yang telah dekat di hatiku, namun aku yakin semua itu takkan pernah hilang, semua akan tetap seperti adanya, sampai aku mengubah semua keadaan menjadi seperti dulu lagi.
“Selamat tinggal pohon kelapa, selamat tinggal pasir hitam, selamat tinggal dedauan layu,” batinku.
“Jangan pernah meneteskan air mata nak,” kata ibu sambil membelai kepalaku.
Kulangkahkan kaki, di jalan tanah berlubang dan berdebu ini tanpa kusadari aku menyeret sepenggal kekecewaan, membawa beribu dendam. Ibuku, ayahku, dan semua penduduk desaku menderita akibat ulah segelintir manusia yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang yang seharusnya dapat menjadi tempat kami mengadu, bisanya hanya berjanji dan diakhiri dengan diam. Mereka memalingkan muka untuk penderitaan ini, sepertinya kami layak untuk disingkirkan.
Di
Tak terasa hari-hari terus berputar, aku sedang memutus dan menyambung kabel sebuah alat elektronika ketika sebuah kabar kuterima, surat itu kubaca, di desaku, musim paceklik tengah melanda, masyarakat banyak yang pindah, sebab tanah kering meretak, di sana serba kekurangan, harga-harga naik tak tentu, makanan susah didapat. Seperti hujaman yang kembali melukai hatiku, memanaskan dendam yang sudah membara, ada api di sini, ada api di dadaku.
Malam itu, di sebuah rumah, dipinggiran ibu kota, aku berserta lima orang temanku duduk melingkar, tak ada yang dapat mendengar suara kami, bahkan dindingpun tak mengerti kalimat yang meluncur dari bibir kami. Kami sepakat untuk menjemput ibuku. Besok, semua yang telah kami rencanakan akan berjalan.
Tibalah pagi, kuhisap dalam-dalam udaranya, masih terasa sejuk, mengalir ke dadaku. Kugerakkan tanganku ke kiri ke kanan, kulihat temanku telah selesai mandi. Pukul setengah enam tepat kami menyiapkan segala perangkat yang akan kami bawa, semua telah dibungkus, baik pakaian maupun kertas-kertas yang tersimpan di lemari kami.
Bis yang kami tumpangi telah sampai ke desaku. Perasaanku berkecamuk, aku seperti mengijakkan kaki di tempat yang tak kukenali. Cepat kulangkahkan kaki menuju rumahku, sementara teman-temanku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Rumah-rumah panggung tampak kosong, sebagian roboh, sepertinya desa ini telah lama ditinggalkan penghuninya.
Gubuk itu bertambah reot, beberapa papan dindingnya mengelupas, tak ada tanaman sayuran, tak ada pehonan, sepertinya sudah tak ada kehidupan lagi disini, kecuali suara mesin-mesin pengeruk dan asap pabrik serta corong limbahnya yang telah menemukan surga disini.
Kuberikan salam, ketika kakiku menginjak garang rumahku, tak ada sahutan, kuputuskan untuk mendorong langsung pintu tua itu. Aku langsung menghambur, kali ini tak dapat kutahan tangis seperti aku meningglkan ibuku. Tapi tangisku ini adalah amarah, tangisku ini kepiluan seorang manusia, bukan tangis cengeng, bukan pula tangis sandiwara.
Aku bersimpuh di kaki wanita tua itu, wanita yang selama ini menjadi penerang dalam hidupku, ia terbaring lemah di tikar purun, tubuhnya kering, air dalam cangkir di sampingnya seperti debu yang melumpur. Teman-temanku menyaksikan keadaan ini sangat terpukul. Aku terus menangis.
“Bu, Mahmud datang bu, maafkan Mahmud bu.” Kusentuh lembut tangannya yang tinggal kulit pembalut tulang itu. Perlahan mata itu terbuka, sayu, namun aku melihat sesuatu yang tetap ada di tatapnya, ibuku memang wanita yang tangguh, sinar harapan di matanya tak pernah padam, walau derita menggerogoti sisa hidupnya.
“Mud, kamu pulang nak?” kata ibuku parau.
“Mahmud akan bawa ibu pergi dari sini,” kataku sambil memberikan air minum yang kubawa. Air itu habis mengalir ke tenggorokannya.
Teman-temanku saling pandang, lalu menatap aku, kuajak mereka keluar rumah setelah berpesan pada ibuku.
“Kita kesana,” kataku sambil menujuk ke arah sungai. Kelima orang temanku mengikuti, perlahan kami berjalan, mengendap diantara bebatuan. Satu jam kami menyusuri sungai hingga habis semua isi tas kami. Kami bernafas lega, tugas pertama selesai sudah. Aku pulang menggendong ibuku, menuju tepi jalan. Tak berselang beberapa waktu, sebuah bis telah berhenti di depan kami.
Pagi itu, ibuku sudah tampak segar kembali, aku bahagia melihatnya, seteko kopi telah tersedia di meja ruang makan, ibuku yang masih berjalan tertatih-tatih itu menyeduhkannya, tak ada lelah tertampak setelah menempuh perjalanan jauh dari desa ke kota. Kulihat satu koran telah tergeletak di samping cangkir, kubuka perlahan. Aku tersenyum. Begitu pula dengan temanku yang telah selesai mandi. Cepat-cepat kunyalakan televisi. Indah sekali pemandangan itu terekam, sampai juga keinginanku untuk memberikan hadiah kepada ayah dan ibuku. “Ayah, lihatlah, aku anakmu telah bawakan gugusan bintang, aku bawakan bulan, aku bawakan matahari, aku bawakan awan putih, untuk menghiasi langit-langit hatimu, disana, di kehidupanmu yang kedua.
“Ledakkan telah meluluhlantakkan satu desa,….” Kumatikan televise itu.
Lahat, 08 Juli 2008.
Puisi
Jajang R Kawentar
Di lematang air mengalurkan kata-kata
kadang keruh kadang jernih kadang meluap
banjir bandang
menghanyutkan menenggelamkan tempat tinggal
tinggal terkenang
jiwapun melayang ke hilir sebagian
bernyanyi mengiris terbata-bata
di lematang penduduk melukis dirinya dengan lagu air yang mengalir
kata-kata menjadi nyaring berlari-lari dalam gelombang
serta gemuruh tawa
mereka duduk tersipu serupa batu
teguh memeluk di pusaran waktu
mengenang bimbang Dirut kapan pulang
dirut
dirut
di lematang menantang kapan datang
Di lematang jampijampi menjadi batu pasir kerikil
Sampahpun hanyut menyemut
bongkahan batang melintang melanting jalan
bangkai-bangkai mengambang
dari tubuh dan dapur pabrik seperti ombak menyapu tebing
di lematang katakata untuk mandi, gosok gigi dan mencuci
perahu karet ban mobil berlayar perlahan
berpenumpang batubatu dan sesak amanat keluarga
rakit dan sampan kendaraan menyeberang
mari kawan jangan sungkan berenang
arus lematang tenang jangan ditentang
di lematang sajak-sajak dikayuh ketujuan
ke hulu ke hilir mudik bersama warna dan cahaya
airnya jadi syair sunyi dingin pagi buta kabut meneteskan mata air
airnya jadi kuduk menembus jantung kehidupan
urat nadi putus, air merah bersimbah
siapa melawan jangan harap kembali
di lematang batu menjadi bahan bangunan kalimat
dipecah martil dari negri kapital disusun ikan asin
merdu mendayunya orang melayu
pasir menjadi bahan jalan rata katakata yang mula berlobang becek tur licin
di lematang angin dari perbukitan berkejaran mengusap-ngusap dada pengap
mengirim wangi bunga kopi atau bau getah batang karet
gelombang beriak bahasa menimang-nimang
arusnya jangan ditentang pasti sampai tepian
di lematang dulu kala lalu-lintas puyang
kata-kata terjalin jadi keluarga beranak-pinak
sukusuku bangsa menjadi suku-suku kata
menyebar membentuk dusun membuat talang-talang
di dangau mereka berpantun bercerita geguritan
bujang gadis kawin diarak terbangan
disambut tarian riang
panen raya telah tiba
di lematang kini mata pencaharian orang-orang dusun
berlomba membuat gunung-gunung batu berkubik-kubik
berkubik-kubik menimbun kota menimbun rawa-rawa
menimbun tumbuhan, satwa dan anak bangsa
menimbun kata-kata sendiri dan sejarahnya
di lematang silsilah bisa dirajut dari arah mata angin
menjadi kinjar dan truntung puntung dan buah kawe
dibebankan di jidat nak, nik, nuk,
pada Pasemah dan Gumay
sejak Raja Syailendra berjaya atau Patih Gajah Mada bertahta
di Lematang darah tua tergores
peradaban lahir mengikuti arusnya ke pusaran
Lahat, 2007